(tulisan ini dibuat hanya untuk sekedar berbagi pengalaman dan memberi sedikit informasi tentang salah satu pengobatan kanker, yaitu kemoterapi)
Anda atau orang terdekat Anda menderita kanker? Hal itu mungkin akan menjadi momok yang menakutkan. Hal tersebutlah yang sekarang sedang saya alami. Ibunda saya tercinta menderita kanker ovarium/kista/myom. Pada 12 Januari 2012 ibu saya melakukan operasi pengangkatan kista (sekaligus rahimnya). Kista yang diderita ibu termasuk kista cair. Ibu melakukan dua operasi sekaligus, yaitu operasi kista dan operasi usus buntu. Pada saat operasi dilakukan, saya masih berada di Bogor sehingga masih belum mengetahuinya dan baru diberitahu sesampainya di rumah. Pada 16 Januari 2012, saya mengantar ibu untuk menjalani kemoterapi yang pertama. Awalnya ibu sempat menolak, hingga dorongan dari kerabat dan orang-orang terdekatpun membuat ibu akhirnya melakukan kemoterapi tersebut. Kami datang ke rumah sakit sekitar pukul 10.00 WIB, dan ibu langsung dibawa ke ruang rawat sementara dan menerima infus. Sekitar pukul 11.00 WIB dipindahkan ke ruang rawat inap, tempat akan dilakukannya kemoterapi. Awalnya saya kira infus yang diberikan tersebut sudah berisi obat kemoterapi, karena setau saya obat kemo diberikan dengan cara disuntikkan, oral, atau infus. Namun, ternyata dugaan saya salah. Pukul 19.30 WIB suster datang dan mengatakan untuk bersiap-siap menjalani kemoterapi yang pertama. Pada saat itu saya lihat infus yang akan diberikan berlabel Brexel. Setelah mengganti slang infus dengan slang yang lebih kecil, infuspun mulai di jalankan. Pada pemberian dosis awal, sesuatu yang membuat saya dan ayah panik pun terjadi. Selama beberapa menit ibu mengalami sesak nafas dan nafasnya sempat terhenti. Matanya sempat terlihat berputar dan tubuhnya kejang-kejang. Suster pun panik dan memanggil bantuan. Saya hanya bisa menangis dan berdoa, sedang ayah memegangi wajah ibu sambil membaca lafadz Allah. Kemudian datang suster-suster lain membawa tabung oksigen untuk alat bantu pernafasan dan setelah beberapa menit kemoterapi dilanjutkan kembali dengan dosis yang diperlambat. Berjam-jam ibu masih tak sadarkan diri. Hingga kira-kira pukul 23.00 WIB suster datang mengganti infus dan pukul 00.30 WIB diberikan infus berlabel Actoplatin hingga pukul 3 pagi. Saat ibu sadar, kondisinya masih sangat lemah hingga akhirnya pukul 6 pagi kami check out dari rumah sakit. Sejak itu ibu trauma menjalani kemoterapi. Dan memutuskan untuk tak melnjutkan terapi mengerikan tersebut. Namun, ternyata kekejaman kemoterapi tak hanya berhenti sampai disitu saja. Efek-efek pasca kemoterapi justru lebih mengerikan, karena kemo tak hanya membunuh sel-sel kanker tetapi juga membunuh sel-sel sehat yang sedang aktif membelah. Pencernaan ibu terganggu dan sejak kemo pertama itu tak bisa BAB hingga hampir sebulan. Tanggal 5 Februari ibu mengeluhkan sakit di ubun-ubun dan rambutnya mulai rontok hingga terlihat sangat tipis dan mulai botak bagian belakangnya. Terkadang saya mendapati ibu menangis mengingat kondisinya sekarang, kami sekeluarga pun turut sedih memikirkannya dan hanya bisa memberikan support dan doa agar ibu sehat seperti dulu lagi. Kadang ibu merasa kecewa dengan kemoterapi yang telah dilakukan. Sejak itu kami mulai mencari alternatif dan dari internet dan buku-buku kami dapatkan banyak informasi pengobatan alternatif selain kemo yaitu dengan rebusan air daun sirsak dan keladi tikus, juga benalu teh. Sekarang ibu mulai gencar memberi tahu orang-orang bahwa kemoterapi itu mengerikan dan lebih baik mencari alternatif lain saja, karena kemo bukanlah satu-satunya cara untuk sembuh dari kanker. Kami sekeluarga berharap ibu cepat sembuh dan dapat lancar beraktivitas lagi.
Get well soon, mom. We always love you!
2 komentar:
Makasih infony..
Semoga ibu kamu cepet sembuh. Amiin.. :)
makasih juga doanya :)
Posting Komentar