Pekerjaan-pekerjaan
besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai
naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya
dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah
sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang- orang besar.
Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara
rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para
pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari cara mereka membalas
utang budi.
Mungkin, karena itu pula para pahlawan selalu
muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah
situasi yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul
oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari
langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri
kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat.
Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya
pekerjaan-
pekerjaan besar.
Tantangan adalah stimulan
kehidupan yang disediakan Tuhan untuk merangsang munculnya naluri
kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri
ini akan meiihat tantangan sebagai beban berat maka mereka
menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak
terhormat. Namun, orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan
mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu: Ini untukku.
Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan
itu sendiri. Hal itu akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya
sembari bertanya, “Apa engkau dapat melakukan hal yang sama?” Dan jika
ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, ia akan menemukan dorongan
yang kuat untuk mengeksplorasi segenap potensinya untuk tumbuh dan
berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong
munculnya potensi- potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan
yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.
Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawanan adalah keberanian.
Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan
pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan
keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar
dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya
dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar
itu selalu menyimpan risiko. Dan, tak ada keberanian tanpa risiko.
Naluri kepahlawan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Tetapi,
keberanian adalah batang yang menegakkannya. Keberanian adalah kekuatan
yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju
menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan
kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari
sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterimanya.
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri
seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan.
Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun melalui latihan,
selalu mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan kebenaran dan
kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan
hidup.
Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran.
Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah
keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Risiko adalah
pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang
pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus-menerus.
Ada banyak pemberani yang tidak dapat mengakhiri hidupnya sebagai pemberani.
Karena mereka gagal menahan beban risiko. Jadi, keberanian adalah aspek
ekspansif dari kepahlawanan. Akan tetapi, kesabaran adalah aspek
defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan
sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat
apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang
memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar.
Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak
sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula
lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir
dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan,
kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah
ketenangan.
Akan tetapi, kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu.
Jadi, pahitnya dari kesabaran itu hanya permulaannya. Sebab, kesabaran
pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya.
“Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai- sampai panah itu hanya menembus
panah,” kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah.
Mereka
yang memiliki naluri kepahlawan dan keberanian harus mengambil saham
terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal. Sampai
akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.
Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh
mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi
kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelemahannya,
niscaya engkau menemui kesalahan dan kelemahannya itu “tertelan” oleh
kebaikan dan kekuatannya.
Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan
itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian
perbuatan menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah
sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang
dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah.
Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang
menerangi kehidupan, atau pumama yang merubah malam jadi indah, atau air
yang menghilangkan dahaga.
Nilai sosial setiap kita terletak
pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat
yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan performance kepribadian kita.
Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan
karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat.
Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan
berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampui batas-batas
kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan
telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya di
mana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar