Sabtu, 14 Mei 2011

HORMON SAAT JATUH CINTA

Setiap orang memiliki hormon feromon yang mampu mengendalikan berbagai  emosi, termasuk dalam memilih pasangan. Seseorang yang jatuh cinta, ketika bertemu secara otomatis tubuhnya mengeluarkan hormon feromon dan tercium oleh Vomero Nasal Organ (VNO), yaitu organ dilubang hidung yang memiliki kepekaan penciuman ribuan kali dari penciuman hidung hingga merangsang otak kecil yang mengatur panas tubuh, birahi, tekanan darah, dan pernafasan (Pearce,1933). Anehnya organ VNO tak berfungsi bila seseorang jatuh cinta. setiap kali feromon berhembus, organ VNO segera bereaksi dan perubahan psikologis terjadi setiap 1/10.000 detik.


Meski demikian, untuk timbulnya rasa cinta harus diproses dulu di otak baru kemudian diproses secara kimiawi dengan melibatkan berbagai hormon melalui beberapa tahap proses kimia cinta (Times,1997), yaitu sebagai berikut:
1. Tahap terkesan, ditandai dengan berpandangan mata dan fantasi romantis karena faktor genetik, pengalaman psikologis, atau bebauan.
2. Tahap nafsu, ditandai dengan dihasilkannya senyawa amfetamin (senyawa yang ada dalam ekstasi), yaitu Phenyl Ethyl Amine (PEA), dopamine, dan nor-epinephrine yang bila menyebar ke seluruh tubuh membangkitkan perasaan gembira dan bahagia. Biasanya remaja berada pada tahap ini. Oleh karena itu ada larangan untuk pergi berduaan di tempat yang sepi, karena senyawa amfetamin yang terbentuk tak dapat dikendalikan.
3. Tahap pengikatan, ditandai dengan dihasilkannya endorphine yang menyebabkan perasaan aman, damai, dan tentram. Orang dewasa berada pada tahap ini.
4. Tahap persekutuan kimiawi, terjadi saat sudah menikah, ditandai dengan dihasilkannya oksitosin yang menyebabkan pasangan makin rukun.


Sumber: buku kimia SMA Grasindo

Tidak ada komentar: