Selasa, 31 Maret 2015

The Journey: Go Global with AIMS!

Semua berawal dari AIMS! AIMS (Asian International Mobility for Students) adalah salah satu program pertukaran pelajar yang baru saja saya ikuti. Awalnya saya tertarik untuk mengikuti program ini karena mendengar cerita dari kakak kelas di Ilmu dan Teknologi Pangan yang membagi kisah exchange mereka di sebuah forum pengenalan AIMS program yang diselenggarakan oleh departemen ITP, IPB. Ada beberapa pilihan negara tujuan, antara lain Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Namun, pada tahun dimana saya bisa mendaftar, Vietnam tidak masuk menjadi salah satu Negara tujuan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memilih Negara Thailand sebagai Negara tujuan. Kenapa Thailand? Kenapa bukan Jepang atau Malaysia? Alasan pertama adalah saya ingin mempelajari hal baru, budaya baru, dan lingkungan baru. Saya kurang tertarik untuk memilih Negara serumpun seperti Malaysia, karena saya ingin bisa menguasai bahasa baru dan saya memutuskan untuk tidak memilih Jepang karena saya sudah pernah mengikuti program pertukaran ke Jepang pada saat SMA sehingga pilihan saya jatuh pada Negara Thailand. Thailand merupakan salah satu Negara yang menarik untuk dikunjungi karena saya kagum atas kesetiaan masyarakatnya terhadap raja mereka, selain itu mereka memiliki bahasa dan kebudayaan yang unik sehingga membuat saya tertarik untuk mempelajarinya. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mengisi formulir AIMS. Setelah mendapat restu dan doa dari orang tua dan dosen pembimbing, saya pun mengumpulkan form AIMS yang telah saya isi. Pada saat wawancara, saya diberi pertanyaan seputar alasan dan motivasi saya mengikuti program AIMS dan menunjukkan bakat yang dimiliki, saat itu saya memilih untuk menari tarian tradisional sunda. Beberapa minggu kemudian, Alhamdulillah saya diumumkan sebagai salah satu penerima beasiswa AIMS program ke Thailand tepatnya ke Mae Fah Luang University (MFU), Chiang Rai, Thailand. Sebelum berangkat, saya dan teman-tempat menyempatkan diri untuk bertemu dengan senior kami yang telah lebih dahulu merasakan menjadi AIMS Student ke MFU serta berkenalan dengan beberapa mahasiswi AIMS dari MFU yang sedang melakukan penelitian di ITP, IPB.
Tak terasa tibalah hari-hari menuju keberangkatan menuju Thailand. Ada perasaan senang bercampur sedih yang saya rasakan. Sedih saat harus berpisah dengan sahabat-sahabat tercinta di tanah air dan harus meninggalkan organisasi yang saya cintai yaitu HIMITEPA (Himpunan mahasiswa ilmu dan teknologi pangan) dan jauh dari keluarga. Namun, saya merasa sangat bersemangat, karena saya yakin banyak hal yang menanti saya di negeri gajah putih tersebut. Awal berada di Thailand terasa sangat asing di mata saya, baik itu orang-orangnya, bahasanya, maupun kebudayaan mereka. Namun walaupun semuanya tampak asing, saya merasa sangat menikmatinya. Jujur saya merasa nyaman berada di tempat ini, saya merasa sedang berada di kampung halaman sendiri. Selama berada di MFU, saya tinggal di asrama internasional. Di asrama kami dituntut untuk bisa bergaul dan bertoleransi dengan teman-teman yang berbeda suku bangsa serta berbeda budaya. Banyak hal yang dapat saya pelajari selama saya tinggal di tempat yang sangat heterogen seperti di asrama internasional ini. Saya harus belajar untuk berbagi, berbagi fasilitas publik yang telah disediakan oleh pihak asrama, belajar untuk menghargai orang lain dan juga belajar disiplin karena di asrama kami diterapkan sistem jam malam. Selain itu, di asrama juga tinggal beberapa teman yang berasal dari Indonesia yang berbeda suku. Saya pun belajar untuk lebih mengenal budaya sendiri dan juga belajar untuk berbagi dengan mereka. Adanya mereka mengobati sedikit kerinduan saya akan tanah air selama disana. Di MFU, saya juga melakukan penelitian yang mengharuskan saya untuk mengerjakan proyek dengan topik yang diberikan oleh dosen pembimbing yang sebelumnya sudah saya pilih. Banyak sekali hal-hal yang saya pelajari selama saya melakukan penelitian disana. Saya harus belajar untuk menyelesaikan masalah, dan belajar mandiri dan tidak mudah putus asa. Terkadang ada hal yang tampak berat bagi saya selama menjalankan penelitian, seperti saat gagal uji dan hal-hal lainnya, namun saya bersyukur bahwa saya diberikan teman-teman yang selalu mendukung saya. Karena hampir tiap hari saya diharuskan berada di lab membuat saya lama kelamaan semakin dekat dengan laboran-laboran yang berada disana. Saya sudah menganggap mereka seperti keluarga saya sendiri dan terkadang saat saya tak sedang mengerjakan penelitian pun saya menyempatkan diri untuk sekedar berbincang dengan mereka dan sempat juga mengunjungi rumah salah satu dari mereka.Selain penelitian, saya juga mengambil mata kuliah Bahasa Thailand. Ini adalah salah satu favorit saya selama berada disini, karena saya merupakan orang yang sangat menyukai belajar bahasa baru. Di kelas bahasa Thailand, saya memiliki banyak teman baru dari China, Myanmar, dan Bhutan. Kami sering bertukar cerita tentang budaya masing-masing dan belajar untuk menghargai satu sama lain.
Terlepas dari kegiatan akademis, banyak hal yang saya dan teman-teman ikuti yang melatih kami untuk mengembangkan soft skill yang kami miliki. Terkadang saya menyempatkan diri untuk menjadi native speaker untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Saya senang karena ternyata banyak orang Thailand dan Negara lainnya di MFU yang tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Dengan menjadi native Bahasa Indonesia saya memiliki kesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada mereka dan menumbuhkan rasa cinta lebih terhadap bangsa sendiri. Selain itu saya juga mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Moslem club MFU, seperti acara makan bersama (Kantoke dinner), City tour, dan sport day. Saya merasa memiliki saudara-saudara baru yang mengajarkan saya tentang banyak hal, dan selalu mengingatkan saya disaat saya melakukan kesalahan. International affair MFU juga sering sekali mengadakan kegiatan-kegiatan untuk mahasiswa-mahasiswi exchange seperti orientasi, Halloween party, city tour, dan kegiatan bakti sosial di salah satu desa kecil di daerah Chiang Rai. Kegiatan-kegiatan tersebut membuat saya semakin memiliki banyak teman dari berbagai Negara. Terlebih saat melakukan camping di desa yang mengharuskan kami untuk saling bekerja sama dalam menyiapkan segala keperluan kami selama berada disana. Walaupun penduduk desa tersebut tidak bisa berbahasa Inggris, tapi kami mencoba dan belajar untuk saling mengerti dan kami senang bisa berbagi ilmu kepada mereka. Di MFU saya juga memiliki beberapa sahabat orang Thailand dan dua orang sahabat dari Alabama yang saya dan teman-teman temui tak sengaja saat berada di kantin. Kantin MFU yang cukup luas memang sering menjadi ajang bagi kami untuk menambah teman baru. Selama berada disana saya belajar untuk lebih berani berbicara dan tak malu untuk menyapa lebih dahulu serta berteman dengan siapa pun baik itu mahasiswa, pedagang kantin, laboran, dosen, petugas keamanan, maupun petugas kebersihan. Saya merasa senang bisa mengenal mereka dan bertukar cerita dengan mereka.
Terkadang saya dan teman-teman juga pernah berselisih paham tentang suatu hal, namun saat itulah kami harus belajar untuk saling mengerti, saling memahami, dan saling memiliki. Saya menyadari bahwa kami memang bukanlah pribadi yang memiliki sifat yang sama. Terkadang gesekan-gesekan kecil muncul untuk menguji pertemanan kami selama disini. Namun kami dituntut untuk lebih dewasa dalam mengatasi masalah. Kami harus menyadari bahwa perbedaan pendapat dan salah komunikasi mungkin saja terjadi dan hal tersebut membuat kami belajar banyak hal untuk lebih menghargai satu sama lain. Disini kami adalah satu keluarga yang harus saling menjaga dan melindungi dan kami sadar bahwa kehadiran kami disini adalah salah satu representasi Indonesia di mata dunia sehingga apa yang kami lakukan harus selalu kami jaga.
Hal terberat bagi saya adalah saat menjelang kepulangan saya dari Mae Fah Luang. Saya sudah menganggap tempat ini seperti kampung halaman saya sendiri dan sudah memiliki banyak sekali keluarga disini. Hari-hari terakhir meninggalkan MFU, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk bertemu teman—teman kami disini untuk sekedar berbincang hingga saling memberi hadiah. Saya yakin perpisahan bukan akhir dari segalanya, suatu saat nanti saya akan bisa kembali ke tempat ini lagi dan bertemu dengan mereka. Hal yang membuat saya terharu adalah saat kepergian kami ke Bangkok yang dilepas oleh sahabat-sahabat kami disini. Mereka dengan setia mengantarkan kami hingga bis yang membawa kami ke Bangkok datang. Hal tersebut memberikan kesan mendalam untuk saya, karena saya merasa dicintai oleh mereka dan tentu saja saya sangat mencintai mereka secara tulus dari hati saya yang paling dalam.
Di Bangkok kami tinggal di tempat mahasiswi Permitha yang berada di Bangkok. Berkenalan dengan mereka membuat saya kagum karena mereka tetap mengetahui dan memantau berita tentang tanah air selama mereka berada disini. Saya juga merasa memiliki keluarga baru selama disini karena mereka sangat perhatian kepada kami selama kunjungan kami ke Bangkok. Kami juga mengunjungi rumah salah satu sahabat kami yang berada di Nakonratchasima, bertemu dengan keluarganya, saling bertukar cerita dan banyak hal lainnya. Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah teman di Pattani. Mereka sangat tertarik tentang Indonesia dan kami senang bisa mengenal satu sama lain. Mereka juga berencana untuk mengunjungi kami suatu saat nanti. Dari Pattani kami singgah ke Pulau Penang, Malaysia untuk mengunjungi teman ITP kami yang exchange ke USM, Malaysia. Kami menghabiskan beberapa hari untuk menjelajah Pulau Penang dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Syah Alam untuk mengunjungi teman kami, exchange student dari UITM yang kami kenal di MFU. Kami juga diajak untuk bertemu keluarganya yang walaupun masih serumpun namun memiliki banyak perbedaan budaya yang membuat kami semakin akrab dan mengerti satu sama lain. Hingga tak terasa kami harus pulang lagi ke Negara kami tercinta, Indonesia. Sehari setelah kepulangan kami, kami masih merasa bahagia karena salah satu sahabat kami berkunjung ke Indonesia karena ingin mengenal Indonesia lebih jauh dan bertemu lagi dengan kami. Bagi saya pribadi, walaupun hal tersebut sempat membuat saya memundurkan rencana saya untuk pulang ke kampung halaman namun saya merasa sangat senang karena adanya sahabat saya tersebut mengobati kerinduan saya tentang MFU.
Kisah ini murni saya tulis secara tulus dari hati saya yang paling dalam. AIMS memberikan saya banyak kesempatan berharga. Membuat saya merasa sangat istimewa telah dipertemukan dengan orang-orang sebaik mereka. Walaupun hanya mengenal mereka beberapa bulan saja namun saya merasa sudah sangat menyayangi mereka. AIMS membuat saya memiliki banyak keluarga baru dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda dan perbedaan bahasa maupun agama bukanlah hal yang harus membuat kita saling menjauh namun mengajarkan kita pentingnya untuk belajar saling memahami. AIMS mengajarkan saya banyak hal yang tak dapat saya pelajari di bangku kuliah. Mengajarkan tentang pentingnya saling menghargai, toleransi, dan yang terpenting adalah bagaimana cara kami bersikap terhadap orang lain. Saya tak merasa kecewa ataupun menyesal sedikitpun terhadap apa yang program ini berikan. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bergabung dalam AIMS family. I’m proud to be AIMS family, Go Global with AIMS!


Tidak ada komentar: