Semua berawal dari AIMS! AIMS (Asian International Mobility for
Students) adalah salah satu program pertukaran pelajar yang baru saja
saya ikuti. Awalnya saya tertarik untuk mengikuti program ini karena
mendengar cerita dari kakak kelas di Ilmu dan Teknologi Pangan yang
membagi kisah exchange mereka di sebuah forum pengenalan AIMS program
yang diselenggarakan oleh departemen ITP, IPB. Ada beberapa pilihan
negara tujuan, antara lain Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
Namun, pada tahun dimana saya bisa mendaftar, Vietnam tidak masuk
menjadi salah satu Negara tujuan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk
memilih Negara Thailand sebagai Negara tujuan. Kenapa Thailand? Kenapa
bukan Jepang atau Malaysia? Alasan pertama adalah saya ingin mempelajari
hal baru, budaya baru, dan lingkungan baru. Saya kurang tertarik untuk
memilih Negara serumpun seperti Malaysia, karena saya ingin bisa
menguasai bahasa baru dan saya memutuskan untuk tidak memilih Jepang
karena saya sudah pernah mengikuti program pertukaran ke Jepang pada
saat SMA sehingga pilihan saya jatuh pada Negara Thailand. Thailand
merupakan salah satu Negara yang menarik untuk dikunjungi karena saya
kagum atas kesetiaan masyarakatnya terhadap raja mereka, selain itu
mereka memiliki bahasa dan kebudayaan yang unik sehingga membuat saya
tertarik untuk mempelajarinya. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah
mengisi formulir AIMS. Setelah mendapat restu dan doa dari orang tua
dan dosen pembimbing, saya pun mengumpulkan form AIMS yang telah saya
isi. Pada saat wawancara, saya diberi pertanyaan seputar alasan dan
motivasi saya mengikuti program AIMS dan menunjukkan bakat yang
dimiliki, saat itu saya memilih untuk menari tarian tradisional sunda.
Beberapa minggu kemudian, Alhamdulillah saya diumumkan sebagai salah
satu penerima beasiswa AIMS program ke Thailand tepatnya ke Mae Fah
Luang University (MFU), Chiang Rai, Thailand. Sebelum berangkat, saya
dan teman-tempat menyempatkan diri untuk bertemu dengan senior kami yang
telah lebih dahulu merasakan menjadi AIMS Student ke MFU serta
berkenalan dengan beberapa mahasiswi AIMS dari MFU yang sedang melakukan
penelitian di ITP, IPB.
Tak terasa tibalah hari-hari menuju keberangkatan menuju Thailand.
Ada perasaan senang bercampur sedih yang saya rasakan. Sedih saat harus
berpisah dengan sahabat-sahabat tercinta di tanah air dan harus
meninggalkan organisasi yang saya cintai yaitu HIMITEPA (Himpunan
mahasiswa ilmu dan teknologi pangan) dan jauh dari keluarga. Namun, saya
merasa sangat bersemangat, karena saya yakin banyak hal yang menanti
saya di negeri gajah putih tersebut. Awal berada di Thailand terasa
sangat asing di mata saya, baik itu orang-orangnya, bahasanya, maupun
kebudayaan mereka. Namun walaupun semuanya tampak asing, saya merasa
sangat menikmatinya. Jujur saya merasa nyaman berada di tempat ini, saya
merasa sedang berada di kampung halaman sendiri. Selama berada di MFU,
saya tinggal di asrama internasional. Di asrama kami dituntut untuk bisa
bergaul dan bertoleransi dengan teman-teman yang berbeda suku bangsa
serta berbeda budaya. Banyak hal yang dapat saya pelajari selama saya
tinggal di tempat yang sangat heterogen seperti di asrama internasional
ini. Saya harus belajar untuk berbagi, berbagi fasilitas publik yang
telah disediakan oleh pihak asrama, belajar untuk menghargai orang lain
dan juga belajar disiplin karena di asrama kami diterapkan sistem jam
malam. Selain itu, di asrama juga tinggal beberapa teman yang berasal
dari Indonesia yang berbeda suku. Saya pun belajar untuk lebih mengenal
budaya sendiri dan juga belajar untuk berbagi dengan mereka. Adanya
mereka mengobati sedikit kerinduan saya akan tanah air selama disana. Di
MFU, saya juga melakukan penelitian yang mengharuskan saya untuk
mengerjakan proyek dengan topik yang diberikan oleh dosen pembimbing
yang sebelumnya sudah saya pilih. Banyak sekali hal-hal yang saya
pelajari selama saya melakukan penelitian disana. Saya harus belajar
untuk menyelesaikan masalah, dan belajar mandiri dan tidak mudah putus
asa. Terkadang ada hal yang tampak berat bagi saya selama menjalankan
penelitian, seperti saat gagal uji dan hal-hal lainnya, namun saya
bersyukur bahwa saya diberikan teman-teman yang selalu mendukung saya.
Karena hampir tiap hari saya diharuskan berada di lab membuat saya lama
kelamaan semakin dekat dengan laboran-laboran yang berada disana. Saya
sudah menganggap mereka seperti keluarga saya sendiri dan terkadang saat
saya tak sedang mengerjakan penelitian pun saya menyempatkan diri untuk
sekedar berbincang dengan mereka dan sempat juga mengunjungi rumah
salah satu dari mereka.Selain penelitian, saya juga mengambil mata
kuliah Bahasa Thailand. Ini adalah salah satu favorit saya selama berada
disini, karena saya merupakan orang yang sangat menyukai belajar bahasa
baru. Di kelas bahasa Thailand, saya memiliki banyak teman baru dari
China, Myanmar, dan Bhutan. Kami sering bertukar cerita tentang budaya
masing-masing dan belajar untuk menghargai satu sama lain.
Terlepas dari kegiatan akademis, banyak hal yang saya dan teman-teman ikuti yang melatih kami untuk mengembangkan soft skill yang kami miliki. Terkadang saya menyempatkan diri untuk menjadi native speaker
untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Saya senang karena ternyata banyak
orang Thailand dan Negara lainnya di MFU yang tertarik untuk mempelajari
Bahasa Indonesia. Dengan menjadi native Bahasa Indonesia saya
memiliki kesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada mereka dan
menumbuhkan rasa cinta lebih terhadap bangsa sendiri. Selain itu saya
juga mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Moslem club MFU, seperti
acara makan bersama (Kantoke dinner), City tour, dan sport day.
Saya merasa memiliki saudara-saudara baru yang mengajarkan saya tentang
banyak hal, dan selalu mengingatkan saya disaat saya melakukan
kesalahan. International affair MFU juga sering sekali mengadakan
kegiatan-kegiatan untuk mahasiswa-mahasiswi exchange seperti orientasi,
Halloween party, city tour, dan kegiatan bakti sosial di salah satu desa
kecil di daerah Chiang Rai. Kegiatan-kegiatan tersebut membuat saya
semakin memiliki banyak teman dari berbagai Negara. Terlebih saat
melakukan camping di desa yang mengharuskan kami untuk saling bekerja
sama dalam menyiapkan segala keperluan kami selama berada disana.
Walaupun penduduk desa tersebut tidak bisa berbahasa Inggris, tapi kami
mencoba dan belajar untuk saling mengerti dan kami senang bisa berbagi
ilmu kepada mereka. Di MFU saya juga memiliki beberapa sahabat orang
Thailand dan dua orang sahabat dari Alabama yang saya dan teman-teman
temui tak sengaja saat berada di kantin. Kantin MFU yang cukup luas
memang sering menjadi ajang bagi kami untuk menambah teman baru. Selama
berada disana saya belajar untuk lebih berani berbicara dan tak malu
untuk menyapa lebih dahulu serta berteman dengan siapa pun baik itu
mahasiswa, pedagang kantin, laboran, dosen, petugas keamanan, maupun
petugas kebersihan. Saya merasa senang bisa mengenal mereka dan bertukar
cerita dengan mereka.
Terkadang saya dan teman-teman juga pernah berselisih paham tentang
suatu hal, namun saat itulah kami harus belajar untuk saling mengerti,
saling memahami, dan saling memiliki. Saya menyadari bahwa kami memang
bukanlah pribadi yang memiliki sifat yang sama. Terkadang
gesekan-gesekan kecil muncul untuk menguji pertemanan kami selama
disini. Namun kami dituntut untuk lebih dewasa dalam mengatasi masalah.
Kami harus menyadari bahwa perbedaan pendapat dan salah komunikasi
mungkin saja terjadi dan hal tersebut membuat kami belajar banyak hal
untuk lebih menghargai satu sama lain. Disini kami adalah satu keluarga
yang harus saling menjaga dan melindungi dan kami sadar bahwa kehadiran
kami disini adalah salah satu representasi Indonesia di mata dunia
sehingga apa yang kami lakukan harus selalu kami jaga.
Hal terberat bagi saya adalah saat menjelang kepulangan saya dari Mae
Fah Luang. Saya sudah menganggap tempat ini seperti kampung halaman
saya sendiri dan sudah memiliki banyak sekali keluarga disini. Hari-hari
terakhir meninggalkan MFU, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk
bertemu teman—teman kami disini untuk sekedar berbincang hingga saling
memberi hadiah. Saya yakin perpisahan bukan akhir dari segalanya, suatu
saat nanti saya akan bisa kembali ke tempat ini lagi dan bertemu dengan
mereka. Hal yang membuat saya terharu adalah saat kepergian kami ke
Bangkok yang dilepas oleh sahabat-sahabat kami disini. Mereka dengan
setia mengantarkan kami hingga bis yang membawa kami ke Bangkok datang.
Hal tersebut memberikan kesan mendalam untuk saya, karena saya merasa
dicintai oleh mereka dan tentu saja saya sangat mencintai mereka secara
tulus dari hati saya yang paling dalam.
Di Bangkok kami tinggal di tempat mahasiswi Permitha yang berada di
Bangkok. Berkenalan dengan mereka membuat saya kagum karena mereka tetap
mengetahui dan memantau berita tentang tanah air selama mereka berada
disini. Saya juga merasa memiliki keluarga baru selama disini karena
mereka sangat perhatian kepada kami selama kunjungan kami ke Bangkok.
Kami juga mengunjungi rumah salah satu sahabat kami yang berada di
Nakonratchasima, bertemu dengan keluarganya, saling bertukar cerita dan
banyak hal lainnya. Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah
teman di Pattani. Mereka sangat tertarik tentang Indonesia dan kami
senang bisa mengenal satu sama lain. Mereka juga berencana untuk
mengunjungi kami suatu saat nanti. Dari Pattani kami singgah ke Pulau
Penang, Malaysia untuk mengunjungi teman ITP kami yang exchange
ke USM, Malaysia. Kami menghabiskan beberapa hari untuk menjelajah
Pulau Penang dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Syah Alam untuk
mengunjungi teman kami, exchange student dari UITM yang kami
kenal di MFU. Kami juga diajak untuk bertemu keluarganya yang walaupun
masih serumpun namun memiliki banyak perbedaan budaya yang membuat kami
semakin akrab dan mengerti satu sama lain. Hingga tak terasa kami harus
pulang lagi ke Negara kami tercinta, Indonesia. Sehari setelah
kepulangan kami, kami masih merasa bahagia karena salah satu sahabat
kami berkunjung ke Indonesia karena ingin mengenal Indonesia lebih jauh
dan bertemu lagi dengan kami. Bagi saya pribadi, walaupun hal tersebut
sempat membuat saya memundurkan rencana saya untuk pulang ke kampung
halaman namun saya merasa sangat senang karena adanya sahabat saya
tersebut mengobati kerinduan saya tentang MFU.
Kisah ini murni saya tulis secara tulus dari hati saya yang paling
dalam. AIMS memberikan saya banyak kesempatan berharga. Membuat saya
merasa sangat istimewa telah dipertemukan dengan orang-orang sebaik
mereka. Walaupun hanya mengenal mereka beberapa bulan saja namun saya
merasa sudah sangat menyayangi mereka. AIMS membuat saya memiliki banyak
keluarga baru dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda dan
perbedaan bahasa maupun agama bukanlah hal yang harus membuat kita
saling menjauh namun mengajarkan kita pentingnya untuk belajar saling
memahami. AIMS mengajarkan saya banyak hal yang tak dapat saya pelajari
di bangku kuliah. Mengajarkan tentang pentingnya saling menghargai,
toleransi, dan yang terpenting adalah bagaimana cara kami bersikap
terhadap orang lain. Saya tak merasa kecewa ataupun menyesal sedikitpun
terhadap apa yang program ini berikan. Terima kasih atas kesempatan yang
diberikan kepada saya untuk bergabung dalam AIMS family. I’m proud to
be AIMS family, Go Global with AIMS!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar